Sabtu, 04 Mei 2013

RESENSI NOVEL HABIBIE & AINUN


BAB III
RESENSI NOVEL
1. IDENTITAS BUKU
Judul Buku                            : Habibie & Ainun
Buku                                        : Novel
Penerbit                                   : PT THC Mandiri
Diterbitkan                            : Jalan. Kemang Selatan No. 98 Jakarta 12560 – Indonesia.
Tahun terbit                          : November 2010
Penulis                                     : Bacharuddin Jusuf Habibie
Kategori                                  : Biografi
Tebal  Buku                            : xii + 323 Halaman
Resolusi                                   : 14 cm x 21 cm
Jenis Cover                            : Soft Cover  
Text Bahasa                           : Indonesia    
2 TENTANG  NOVEL
            Buku non-fiksi yang ditulis sendiri oleh Presiden RI ke-3, Bapak Habibie ini mengisahkan tentang perjalanan Pak Habibie dari ketika pertemuan pertama beliau dengan Ibu Ainun, setelah sebelumnya beliau lama sekolah di Jerman, yang melahirkan cinta diantara mereka, hingga wafatnya istri beliau tercinta. Saya kisahkan sedikit tentang pertemuan yang menjadi awal lahirnya bahtera rumah tangga mereka.
Sekitar pukul 10 pagi hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, Fanny(J.E. Habibie) adik kandung Pak Habibie mengajak beliau untuk berkunjung ke keluarga Besari di Ciumbeluit Bandung. Keluarga Besari dikenal sebagai  keluarga yang ramah dan intelektual terpelajar. Khusunya Bapak dan Ibu Besari terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan siapapun. Putra-putri keluarga besar Besari bersekolah di SMA-Kristen di Jalan Dago, dimana beliau juga bersekolah. Sahari putra tertua keluarga Besari dari kelas 2 SMA sebagai extrane langsung tamat SMA dan diterima di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang sekarang bernama ITB.
Dengan menggunakan mobil ibu Pak Habibie, beliau bersama Fanny menuju rumah keluarga Besari. Ternyata rumah yang mereka tuju sudah pindah ke Jalan Rangga Malela no. 11 B. Setibanya di rumah keluarga Besari, Fanny tanpa mengajak beliau ikut ke dalam rumah, meninggalkan beliau di mobil sambil mengatakan agar beliau tunggu saja di mobil. Toh nanti akan diajak masuk, jika ternyata tidak mengganggu persiapan untuk malam Takbiran dan Hari Idul Fitri. Tentunya Ibu Besari sibuk dengan berbagai kegiatan.
Hampir setengah jam Pak Habibie menunggu, Fanny tak kunjung datang, dalam keadaan tak menentu itu, beliau keluar dari mobil dan mengetuk pintu sambil berucap Hallo..Hallo..Hallo.. namun tak ada jawaban. Beliau lalu nekat masuk ke dalam rumah. Sewaktu beliau memasuki ruang makan, ternyata Ainun putri bapak Besari duduk seorang diri, ia sedang menjahit dan bercelana panjang “blue jeans”.
                                                            12
Beliau sungguh tak menyangka bertemu Ainun dan nampaknya begitu juga dengan Ainun. Reaksi spontan beliau: “Ainun, kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!” Ainun kaget pula melihat beliau yang lebih dari 7 tahun tidak bertemu. Dengan tenang dan sambil tersenyum ia bereaksi: “Rudy, kapan kamu tiba dari Jerman?”
Beginilah asal-muasal julukan “gula jawa” tadi. Terkenang tujuh tahun lalu ketika Ainun sedang duduk bersama beberapa wanita sekelasnya menikmati sarapan pagi bersama, tiba-tiba beliau datang mengucapkan kepada Ainun: “Mengapa kamu begitu hitam dan gemuk?” Ainun pada waktu itu hanya kaget beliau datangi dan mengucapkan pertanyaan yang tidak sopan itu. Ia dan kawan-kawannya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala saja. Karena kulit Ibu Ainun yang gelap pada waktu itulah yang membuat Pak Habibie menjuluki “gula jawa”.
Itulah sepenggal kisah dalam buku Habibie & Ainun. Kisah yang menjadi awal tumbuhnya cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi.
Secara keseluruhan bahasa yang dipake sebagian besar bahasa ilmiah, meskipun Penulis mengatakan kalau buku ini ditulis dengan gaya mirip novel. Di awal cerita, buku ini banyak menceritakan perjuangan Bapak Habibie yang baru menikah dengan Ibu Ainun hidup di Jerman, dari jatuh-bangunnya Habibie yang sempat jalan kaki pulang-pergi kerja sejauh 15 km hingga beliau meraih prestasi gemilang, yaitu menjadi orang nomor dua di Messerschmidt Bolkow Blohm(MBB), sebuah perusahaan konstruksi ternama di Jerman. Tentunya setelah menjadi besar, Pak Habibie tak lupa tanah air tercinta, Indonesia. Sifat yang patut dicontoh para putera utama bangsa yang berada di luar negeri. Kemudian dari tengah hingga akhir cerita berisikan perjuangan Pak Habibie dan Ibu Ainun ketika ada di Indonesia untuk mengabdi pada Bangsa dan Negara. Nah, agar lebih objekif dalam menilai isi buku berikut saya sertakan pendapat dua tokoh Nasional:
-“Ini adalah sebuah karya yang ditenun dan dibingkai dengan perasaan cinta suci yang mendalam, tulus, dan sarat nilai. Suka-duka penulisnya berdampingan selama 48 tahun dengan Bu Ainun tertumpah-ruah ruah dengan penuh kejujuran dalam karya ini, sebuah karya yang dapat dijadikan ilham bagi para pencari resep spiritual bagi nangunan rumah tanggah sakinah, sesuatu yang tidak mudah bagi kebanyakan kita, termasuk saya.”(Ahmad Syafii Maarif, tokoh PP Muhammadiyah)
 -“Ini sebuah buku yang luar biasa menarik, amat penting, sebuah buku sejarah Indonesia 40 tahun terakhir, kisah pengalaman seorang putera utama bangsa Indonesia, tokoh teknologi yang menjadi tokoh politik, sebuah buku yang indah, yang sekaligus ceritera cinta, cinta yang menjadi rahmat dari Tuhan. Mempesona!”(Frans Magnis-Suseno SJ)
Maaf kalo kalimatnya amburadul.

3. SINOPSIS
            Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun.
Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi Habibie.                                                 13
 Mereka menikah dan terbang ke Jerman.
Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu.
Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar; Apakah cinta mereka akan bisa terus abadi
3. KEPENGARANGAN
Keluarga dan pendidikan
Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Alwi Abdul Jalil Habibie lahir pada tanggal 17 Agustus 1908 di Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta 10 November 1911. Ibunda R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. B.J. Habibie adalah salah satu anak dari tujuh orang bersaudara.[1]
B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.[2]
Sebelumnya ia pernah berilmu di SMAK Dago.[3] Ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung tahun 1954. Pada 1955-1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.
Karya Habibie
  • Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986
  • Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971
  • Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965
  • Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. - Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990
  • Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968
  • Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen,                                                                                                               14
  • Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970
  • Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969
  • Detik-detik Yang Menentukan - Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)
·         Habibie dan Ainun, The Habibie Center Mandiri, 2009 (memori tentang Ainun Habibie)
4, KELEBIHAN
1. Saat merasa buku ini sangat mencerminkan sang penulis, yaitu Pak Bacharuddin Jusuf Habibie.
Saat membaca buku ini, saya dapat membayangkan Pak Habibie berbicara dan bercerita.
Setelah bertahun-tahun tidak pernah melihat pidato-pidato Pak Habibie (yang sejujurnya dulu sangat membosankan), buku ini bisa menjadi penawar rindu yang sangat ampuh.
Selain itu, karena cara penyampaian dalam buku ini benar-benar menggambarkan Pak Habibie, saya semakin kagum dengan apa yang ada di dalam otak dan pemikiran beliau. Betapa hebatnya beliau menciptakan berbagai macam rencana-rencana untuk hidupnya, untuk lembaga-lembaga yang dipimpinnya, dan untuk Indonesia.
2. Bukan cinta melulu.
Sebelum membaca buku ini, saya mengira bahwa saya akan mendapatkan bacaan yang fokus pada kisah percintaan antara Habibie dan Ainun. Saya senang sekaligus juga cukup kaget karena, tidak saja disuguhkan cerita dibalik kehidupan suami-istri mereka berdua, Pak Habibie juga menuliskan berbagai kisah sejarah Indonesia dan benih-benih pemikiran beliau.
Saya justru tidak dapat membayangkan buku jika isinya hanya masalah cinta melulu.

3. Mau atau tidak mau, rasa nasionalisme saya tergugah saat membaca buku ini.
Pak Habibie memberikan deskripsi yang begitu detil tentang perjuangan dia membangun industri dirgantara Indonesia. Kalimat-kalimat yang beliau tulis mengenai kemampuan putra-putri bangsa, mau tidak mau menggelitik rasa nasionalisme saya.
Dulu Pak Habibie bisa menginisiasi proyek sebesar PT DI, kenapa anak-anak muda zaman sekarang belum bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan tersebut?
Tingginya idealisme dan nasionalisme Pak Habibie dan keluarga, yang bersedia meninggalkan hidup berkecukupan di Jerman dan malah pulang ke Indonesia, itu saya akan ingat sampai kapanpun.
5. KELEMAHAN BUKU

1. Karena buku ini sangat menggambarkan Pak Habibie yang sedang bercerita, kalimat-kalimat dalam paragraf-paragraf yang ada dalam buku ini sering terasa membingungkan dan tidak wajar.

Saya tidak tahu apa yang ada di dalam otak Pak Habibie, tapi saya yakin otaknya sangat penuh dengan berbagai macam pemikiran tentang berbagai macam hal. Mungkin beberapa hal tersebut saling bertubrukan satu sama lain. Atau bahkan mungkin rantai pemikiran beliau tentang hal A,
15
            malah berlilitan tanpa sengaja dengan rantai pemikiran hal B. Hal ini semua tergambarkan dalam buku ini.
2. Sungguh saya sayangkan buku yang begitu istimewa ini tidak disempurnakan dengan kehadiran seorang editor.
Ataukah saya yang salah mengerti?
Saya sudah berusaha mencari siapa editor yang membantu sebelum resminya diterbitkan buku ini, namun tidak satu nama pun muncul.
Menurut saya, ketidakhadiran seorang editor membuat kekurangan-kekurangan dalam buku ini menjadi begitu menonjol.
Misalnya saja di dalam buku ini tidak jarang kata “Ainun” malah dicetak menjadi “AInun” atau pun kata “tetapi” menjadi “tatapi.”
Satu hal yang sangat-sangat mengganggu keindahan bahasa penulisan adalah tidak konsistennya pemilihan kata antara “saya” dan “aku”. Di dalam satu kalimat, contohnya:
“… dan Ainun selalu mengilhami saya dengan senyuman yang kurindukan.”
Sungguh-sungguh-sungguh sangat disayangkan.
3. Cerita cinta masih kurang
Kontradiktif dengan poin nomor 3 kelebihan buku ini, sebesar apapun saya menyukai sisi sejarah dan berbagai macam cerita tentang perjuangan Pak Habibie, saya merasa kisah percintaan antara Pak Habibie dan Ainun hanya dirayakan di awal dan akhir buku. Di pertengahan buku, saya merasa cerita-cerita tentang kegiatan Ainun dan deskripsi tentang kecintaan Pak Habibie dan Ainun hanya merupakan sisipan yang cuma mampir. Selipan-selipan yang seharusnya menjadi cerita betapa dalamnya cinta kasih Pak Habibie dan Ainun dirasa terpaksa dituliskan demi menyokong judul buku ini.
4. Kurang Foto
Saya bukan jenis orang yang lebih suka membaca sesuatu yang bergambar, tapi saya sangat setuju dengan ungkapan bahwa gambar dapat menggantikan berjuta-juta kata yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu.
Mungkin hal ini disebabkan karena buku ini buru-buru diterbitkan, mumpung waktu meninggalnya Ainun belum terlalu lama. Atau juga kesalahan penerbit yang menyetujui penerbitan buku ini.
Tapi, dengan menyokong pernyataan saya di poin kekurangan nomor 3, buku ini akan menjadi lebih berwarna bila disertakan dengan gambar-gambar Pak Habibie bersama Ainun.
Alangkah baiknya jika kecintaan Pak Habibie dan Ainun digambarkan dalam foto keluarga bersama Ilham dan Thareq.
Sungguh sangat disayangkan bahwa pembaca hanya diberikan rangkaian kata soal foto keluarga terakhir sebelum Ainun meninggal, tanpa dimanjakan matanya dengan keberadaan foto tersebut.
Semoga hadirnya buku ini bisa menjadi refleksi atau pelajaran serta inspirasi bagi kita semua. Serta mampu memenuhi dahaga warga Indonesia yang ingin mengetahui fakta sejarah dari kehidupan sang profesor, hingga mampu dicatat dalam sejarah bangsa ini.







                                                                                                16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar